Cak Obor

CAK—CAK—CAK demikian sekelompok penari menyuarkan suara tersebut. Prof Dr. Tjokorda Artha Ardana Sukawati wakil Gubernur Bali, suatu saat pernah bercerita bahwa sesungguhnya tarian-tarian yang tercipta di Bali terkait dengan aktifitas pertanian yang menjadi kehidupan primer manusia Bali dengan alam lingkungan. Perjalanan Walter Spies seorang seniman Jerman tahun 1930-an dari Desa Ubud menuju Desa Bedulu melewati sawah-sawah yang sedang menguning memperhatikan burung-burung pada nakal mencuri padi yang akan siap dipanen, sehingga petani mengakali dengan memasang “ Lelakut” (Penakut) atau Scare Crow yang bisa menakuti burung. Disamping menggunakan lelakut diatas, petani juga menghalau burung dengan menyuarakan “ Kru-kwakan, sebilah bambu dibentuk agar mengeluarkan bunyi-bunyian  “ Cak..Cak..Cak”. Atas intuisi dari seorang seniman Walter Spies dikreografi dengan menciptakan Tarian Cak yang menggunakan gerakan tubuh meniru gerakan monyet, tentu setiap penari memiliki peran yang berbeda satu sama lain dalam mengucapkan kata Cak. Ada istilah Cak Satu, dua, tiga dan tawa-tawa sebagai tuntunan. Sehingga penari satu sama lainnya mereka akan saling mencuri ketukan nada tercipta suara yang riuh dan Indah. Akibat Penari menirukan gerakan monyet maka tari ini juga disebut dengan “ Monkey Dance” yang bercerita tentang kesetiaan para monyet mengabdi kepada Sang Rama Dewa dalam epos Ramayana yang menjadi pegangan hidup masyarakat Hindu Bali. Desa Bedulu adalah asal penari Cak pertamakali dimotori oleh I Limbak dan kini oleh ahli Tari Cak Prof Dr Wayan Dibia mantan Rektor Institute Seni Indonesia Tari ini sudah diperkenalkan kekampung-kampung di Bali serta ke mancanegara.

 

Banjar Batanancak Desa Mas Ubud sangat menekuni Tari cak ini tahun 1970-an menjadi obyek wisata di desa Mas yang berlokasi di halaman Jaba Pura Taman Pule dipasarkan oleh Ida Bagus Weda dari Gria Agung Mas, yang ditonton oleh ribuan wisatawan travel agent ketika mereka melalukan Tur ke Kintamani yang dikenal pesanggrahan Belanda tahun 1926. Berkat bimbingan Ida Bagus Putu Lasem dan Ida Peranda Kemenuh menjadi guru latih Cak, akhirnya Banjar Batanancak memiliki ikon  Cak Nancak. Ida Bagus Anom seorang Maestro Topeng dari Gria Danginan Batanancak tidak pernah tinggal diam dalam berkreasi seni. Atas arahan beliau Cak Nancak tersebut dimodifikasi dengan Obor atau api menyala dengan bambu serta dikasi narasi cerita tentang Sita Melabuh Geni, penggalan dari cerita Ramayana ketika perang usai Sang Rama perwujudan dewa Wisnu mampu membunuh Raja Rahwana dari kerajaan Alangka Pura , yang menculik istri Rama yaitu  Dewi Sita ditengah hutan.  Dewi Sita dapat direbut kembali oleh Sang Rama berserta pasukan Ciung Wanara ( Monyet) setelah melalui perang besar yang menghancurkan kerajaan Alangka Pura.  Kembalinya Dewi Sita kepangkuan Sang Rama tidak serta merta sanga Rama menerimanya masih ada keraguan-keraguan tentang kesucian tubuh Dewi Sita. Untuk membuktikan kesucian Dewi Sita akhirnya sang Dewi siap menceburkan diri hidup-hidup kedalam api yang sedang berkobar. Karena kesucian sang Dewi akhirnya Dewa Agni ( Brahma) menyelamatkan Dewi Sita ketika terjun kedalam api tidak ada sehelai baju sang Dewi terbakar dan akhir cerita Sang Rama Dewa hidup bahagia dengan Dewi Sita. 

Harga mulai dari Rp. 4,000,000 per group untuk satu jam pentas. Sudah termasuk : penari beserta perlangkapannya. Yang belum termasuk: transportasi mengangkut group penari dari Banjar Batanancak Desa Mas ke lokasi, makanan ringan dan minuman serta wireless pembesar suara.

Booking

Noted : (*) is required.

Add 9 to 5, what do you get?
Booking Via WhatsApp Booking Via Email

Have a question?

Click the button below to get more information

Contact Us