Desa Mas sesungguhnya telah dikenal sebagai rumah para seniman Pemahat Kayu  atau Home of Wood Carvers masa Kolonial Belanda 1930-an. Maestro Pahat Ida Putu Taman ( 1873-1953) berperan besar memperkenalkan seni pahat kepada warga Desa Mas 1920-an sebagai wujud  “ Ngayah” adalah berkesenian  wujud  rasa bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Pencipta alam beserta isinya . Ida Putu Taman adalah Maha Guru seni pahat yang mampu melestarikan seni budaya leluhur, mengajarkan  seni pahat kepada generasi berikutnya . Bukan hanya sebagai Guru, namun Ida Putu Taman pernah menjadi ketua Yayasan Pita Maha perkumpulan pelukis dan pemahat didirikan oleh Tjokorda Agung Soekawati (1910-1978), Tjokorda Agung Mas (1920-1993) , Gusti Nyoman Lempad, Walter (1862-1978) Spies (1895-1942)  dan Rodulf Bonnet (1895-1978)  tanggal 29 Januari 1936 di Ubud.

Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno (1910-1970) beberapa kali sempat berkunjung kerumah seniman pahat KP Rodja  dan Ida Bagus Njana di Desa Mas dalam perjalanan beliau menuju Istana Presiden Tampaksing. Desa Mas  terletak di jalur lintas menuju Istana Presiden Tampaksiring dari Airport Ngurah Rai Tuban, banyak dilewati oleh para tamu negara dan wisatawan, oleh karenanya berdampak muncul peluang bisnis bagi seniman patung menjual kerajinan tangannya, sehingga ditahun tersebut telah berdiri beberapa galeri patung diantaranya :  KP Rodja Wood Carving Galleri 1955, Bandil Gallery oleh Ida Bagus Rupa  1956 , Adil Art Gallery 1958 oleh Ida Ayu Rupi,  Ida Bagus Njana & son Ida Bagus Tilem Art Gallery 1960. Seniman Topeng mewarnai seni budaya di Desa Mas dipelopori oleh Ida Bagus Gelodog (1912-1978).

Sepak terjang  Tjokorda Agung Mas (1920-1991) sangat besar sebagai duta seni dan politik kelahiran Puri Agung Mas sebagai Punggawa (Raja), pejuang kemerdekaan , pejabat Kepala Desa (Perbekel) Mas pertama  1938-1946 masa penjajahan Belanda . Almarhum banyak mewarnai pemikiran seni dan pariwisata kepada kakak iparnya Tjokorda Gede Agung Soekawati (1910-1978) sebagai Raja terakhir Ubud yang menjadikan Ubud sebagai Desa Wisata tertua di Indonesia tahun 1927 dengan  turis Belanda pertama berkunjung ke Ubud yaitu   Walter Spies dan menginap di Puri Ubud. Tjokorda Agung Mas memprakarsai  Wood Carving Exhibition 1950 di halaman ( Ancak Saji ) Puri Agung Mas diikuti oleh seniman patung dan topeng dari Desa Mas. Sebagai seniman kerawitan atau Gemelan Bali , Tjokorda Agung Mas diundang oleh Univeristy California of Los Angles (UCLA) Amerika Serikat  sebagai guru kerawitan atau gambelan Bali tahun 1960 -1964. Kesempatan ini beliau gunakan untuk mempromosikan Desa Mas sebagai pusat seni patung (wood Carving ), seni tari topeng dan kerawitan.  Implikasi keberadaan beliau di Amerika Serikat mebuat nama Desa Mas sebagai wood carving centre , dan wisatawan asing mulai berkunjung ke Desa Mas  untuk melihat para wood carver sekaligus membeli patung sebagai cindra mata.

Maestro Ida Bagus Tilem (1936-1993) adalah pemahat sekaligus Markerter tangguh  dalam mempromosikan Desa Mas sebagai pusat wood carver . Beliau ikut  pameran di  World New York Fair Amerika Serikat tahun 1964. Kehadirannya di Amerika Serikat membawa dampak terhadap kunjungan wisatawan USA ke Desa Mas terus meningkat diikuti oleh wisatawan dari negara lainnya. Sehingga hasil karya pemahat patung memiliki pembeli akibatnya  Art Galleries  mulai tumbuh dan kesejahteraan warga desa Mas semakin meningkat, lapangan kerja cukup banyak. Perioda 1970-2002 selama 32 (tiga puluh dua) tahun adalah masa berjayanya galeri patung (wood carving gallery) di Desa Mas, dan membanjirnya wisatawan asing dan domestik membeli patung sebagai souvenir. Diperkirakan kunjungan wisatawan ke Desa Mas dikala itu mencapai 5000-10,000 wisatawan per hari, karena mulai  1970-an Desa Mas telah masuk di World Travel Brochures  seperti: Lonely Planet USA , Thomas Cook Travel United Kingdom, dan Desa Mas telah menjadi daya tarik  kunjungan wisatawan lewat paket tur dikemas oleh para Tour Operator  dalam dan luar negeri.

Lapangan kerja semakin meluas di Desa Mas ketika Ida Bagus Ambara memproduksi “POP ART” dalam jumlah besar sebagai barang  ekspor ke luar negeri sekitar 1986-2002. Pop Art adalah jenis kerajinan tangan berbentuk mainan anak-anak (Toys), kerajinan keperluan dapur dan sejenisnya. Masa Pop Art Berjaya dibutuhkan pemahat cukup banyak untuk menghasilkan kerajinan tangan keperluan ekspor, sehingga para pekerja luar Desa Mas harus didatangkan.

Bom Bali 2002 &  2005 oleh serangan teroris sangat mematikan perekonomian Bali dan Desa Mas khususnya yang bergantung pada industri pariwisata. Penurunan ekonomi tajam dan warga kehilangan pekerjaan sehingga terjadi pengangguran massif. Para pemahat berubah profesi dari wood carver menjadi buruh kuli bangunan untuk menyambung hidup keluarga mereka. Situasi ini, sangat memprihatinkan para tokoh karena takut kehilangan talenta-talenta seni pahat yang sudah lahir secara turun –temurun di Desa Mas. Mereka takut kehilangan identitas Desa Mas sebagai Bali Wood Carving Centre.

Beberapa referensi Lontar tentang Babad Desa Mas menyebutkan bahwa masa kejayaan Kerajaan Dalem Waturenggong (1460-1550 M), datanglah seorang Brahmana Siwa bergelar Pedanda Sakti Wawu Rauh bertemu dengan treh Pangeran Bandesa Manik Mas yang telah membangun Desa Mas sekitar tahun 1358 masehi . Ki Bandesa Manik Mas senang hati menjamu kehadiran Ida Danghyang sampai membuatkan Parahyangan untuk beliau dan sanak keluarganya yang diberi nama Pura Taman Pule yang menjadi pusat kunjungan para treh Bandesa Mas dan Treh Catur Brahmana Siwa ( Manuaba, Kemenuh, Geniten dan Mas) setiap hari Raya Kuningan yang jatuh setiap 210 hari. Pariwisata spiritual ini menyebabkan Desa Mas dikenal oleh wisatawan Relegi baik dari Bali dan seluruh Indonesia.

Ida Bagus Aji Mangku Ambara
( Tokoh POP ART )

Ida Bagus Putu Mayun
( Perbekel Mas )

I Wayan Siadja
( Tokoh Pengusaha Patung )

Ida Bagus Tilem
( Maestro Wood Carver )